Suasana mulai memanas saat pelaku pencabulan keluar dari ruang tahanan. Para warga terlihat langsung berdiri, dan meneriakkan tuntutan agar pelaku dihukum seberat-beratnya.
“Kami ingin keadilan ditegakkan! Pelaku harus dihukum setimpal dengan perbuatannya,” teriak salah satu warga yang hadir dalam aksi tersebut.
Kaur Kesra Desa Bengle, Karna, menjelaskan peristiwa ini membuat pemerintah desa dan masyarakat sangat prihatin, marah, dan kecewa.
“Kami berharap aparat penegak hukum, khususnya jaksa dan hakim, memberikan hukuman yang setimpal kepada pelaku. Kami tahu, bukan hanya tiga atau empat anak yang menjadi korban dalam kasus ini,” kata dia.
Alasannya, santriwati yang belajar di sana adalah anak yatim dan piatu yang mendapat bantuan rutin dari dana desa.
Namun hal itu malah berujung kekecewaan mendalam setelah terungkapnya kasus pencabulan yang dilakukan oleh pemilik ponpes.
“Setiap bulannya, kami menyalurkan bantuan sebesar Rp300 ribu per anak untuk kebutuhan makan dan lainnya. Bantuan ini sudah berjalan selama tiga tahun sejak mereka masuk sekolah menengah,” ungkap Karna. (red)











