Sudah barang tentu, kampung Kirisik dan kampung tetangga —yang mayoritas petani (huma)— adalah identitas kehidupan kolektif dan tanah tak sebatas sumber penghidupan, namun sebagai tempat laku ritual adat yang mengikat solidaritas dan menjaga kelestarian budaya warga setempat.
Tak banyak yang berubah sejak kepindahan warga di tanggul irigasi anak kali Cibeet; area yang dulunya ditumbuhi tanaman “tablo” dan semak belukar, nampak jalan lingkungan masih minim, penerangan jalan juga minim, dan saat musim penghujan jalanan nampak becek, tak terkecuali beberapa warga pendatang dari luar desa juga luar daerah berdatangan menempati lingkungan “urban” tersebut.
Namun akankah area urban itu bakal mengalami nasib yang sama seperti penertiban bangli di Desa Wadas dan Interchange, demi kebutuhan industrial dan keindahan kota?
“Kami ‘mah’ pasrah, A, mau dipindahkan kemana juga, asal perhatian dari ‘pamarentah’ engga pilih-pilih.” Kata seorang ibu —salah seorang warga bantaran irigasi yang kemudian diikuti oleh suara-suara ibu-ibu lain saling bersahutan, Kamis (25/12). (Jun)






