Bantaran Irigasi Wanajaya : Sisa-Sisa Eksodus Yang Nyaris Terlantar, KDM Kamu Di Mana

"Kami 'mah' pasrah, A, mau dipindahkan kemana juga, asal perhatian dari 'pamarentah' engga pilih-pilih." Kata seorang ibu —salah seorang warga bantaran irigasi yang kemudian diikuti oleh suara-suara ibu-ibu lain saling bersahutan

Foto kawasan industri Pertiwi Lestari Industrial Estate

Dari ketiga Desa tersebut terbilang sekitar 350 KK semacam bedol desa, harus mengalah demi ambisi industrial. Ironisnya, (mayoritas) warga Kirisik yang eksodus (sekitar 170 KK) harus menempati lahan pengairan, di sepanjang irigasi anak kali Cibeet (sekitar tahun 2012, 2013, 2014), konon atas inisiatif kolektif, di masa Kepala Desa Wanajaya sebelumnya Kades Komar dan berlanjut ke Kepala Desa Emin Syaepudin, barangkali ini semacam “Ruilslag” atawa tukar guling, dan sekitar 10 KK diberi rumah hunian sederhana bersebelahan dengan area pemakaman umum Pasircongcot, Desa Wanajaya.

Warga Kirisik mendapat kompensasi atawa kerohiman antara 15 juta, ada juga 20 – 30 juta per KK, kendati sebagian memilih keluar dari Desa Wanajaya ada juga pindah domisili ke Kecamatan tetangga atau luar kabupaten. Dan ironis, masjid yang dulu berada di tengah-tengah warga sebagai aset kampung kini harus berdiri di lahan pengairan, tepatnya di seberang irigasi pemukiman warga pindahan tersebut. Juga, situs budaya yang dipercaya oleh warga setempat adanya makam karamat Kirisik yakni petilasan Eyang Surya Kancana, dipindahkan ke kampung Karadak Desa Wanajaya diapit antara pojok kampung dan kawasan industri KNIC (Karawang New Industri City).

Writer: JunEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *