Sedang Amerika menggunakan perang psikologis untuk membentuk opini publik. Dalam konflik modern, legitimasi sangat penting. Dengan mengontrol narasi melalui media dan media sosial, AS berusaha mendapat dukungan internasional. Melegitimasi intervensi militer AS sebagai “misi perdamaian” atawa “demokrasi” dan mengisolasi musuh secara diplomatik.
Menghancurkan moral dan kohesi lawan, jelas taktik ini menargetkan psikologi prajurit dan warga sipil lawan biar mereka hilang kepercayaan pada pemimpinnya.
Perang psikologis di era digital jauh lebih kompleks lantaran melibatkan disinformasi, serangan siber, dan algoritma media sosial yang dapat menggeser persepsi publik dalam sekejap.
Dan narasi—langsung disuarakan oleh presiden AS Donald Trump, (28/2/2026)—klaim bahwa pemimpin tertinggi Republik Islam Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam pengeboman brutal yang dilancarkan AS-Israel atas Teheran, Sabtu (28/2/2026), adalah bagian dari perang psikologis itu, yang segera dibantah oleh Kepala Humas Kantor Pemimpin Tertinggi Iran di akun media sosialnya, bahwa laporan-laporan tersebut bagian dari “perang psikologis” yang dilancarkan musuh-musuh Iran. Mengutip Bisnis.com, (1/3/2026).












