“Kami memperkirakan harga akan dibuka—setelah akhir pekan—jauh lebih dekat ke US$ 100 per barel dan mungkin melebihi level itu jika kita melihat blokade Selat berkepanjangan,” kata Ajay Parmar, direktur energi dan penyulingan di ICIS (Independent Commodity Intelligence Services). Melansir Kontan.co.id (1/3/2026).
Qatar salah satu eksportir LNG terbesar, sangat bergantung pada jalur ini. Jika blokade selat berkepanjangan akan memicu krisis pasokan gas terutama negara-negara Eropa dan Asia. Memungkinkan memaksa kapal-kapal tanker mencari rute alternatif yang jauh lebih panjang dan mahal dan premi asuransi kapal pun bakal melonjak lantaran risiko zona perang.
Dampak ekonomi pada kawasan Asia sebagai konsumen terbesar minyak (mencapai 75%), semisal Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan, akan memicu inflasi tinggi di negara-negara tersebut lantaran kenaikan biaya energi dan manufaktur.
Indonesia sebagai importir minyak, akan menghadapi tekanan besar pada APBN akibat membengkaknya subsidi BBM dan potensi merosotnya nilai tukar rupiah atas Dolar AS. Dampak lain, pada stabilitas politik dan keamanan internasional sebagai imbas dari perlambatan ekonomi global atawa resesi, lebih gawat lagi berpotensi memicu intervensi militer dari kekuatan global (seperti AS dan sekutunya) untuk membuka jalur secara paksa, sehingga memperluas skala konflik. (Jun)






