Kades Tegalurung Tepis Isu Pungli PTSL

2084

Ket. Foto Kepala Desa Tegalurung Toto Nur Anwari yang biasa disapa Kuwu Toto bersama warga.

Karawang,suratberita.id – Kepala Desa (Kades) Tegalurung kecamatan Cilamaya kulon kabupaten Karawang membantah jika dikatakan melakukan pungutan liar (Pungli) Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap (PTSL).

Saat dikonfirmasi oleh awak media suratberita.id mengenai adanya ramai pemberitaan miring mengenai pungli PTSL Toto Nur Anwari yang biasa disapa Kuwu Toto mengatakan, “Pungutan yang dilakukan pihak desa Tegalurung sudah sesuai arahan Badan Pertanahan Nasional (BPN) serta mengacu sesuai dengan SKB 3 menteri” kata Kuwu Toto disela pelaksanaan program vaksinasi Covid-19 dosis satu dosis dua dan dosis tiga di dusun Ki Serut Rt 01 / Rw 01 Desa Tegalurung Kecamatan Cilamaya Kulon Kabupaten Karawang, Senin (28/2).

“Ramainya berita miring tersebut disinyalir akibat imbasnya kepemimpinan yang lama, dari awal kami prediksi akan jadi bumerang karena kepemimpinan yang lama disinyalir belum legowo atau belum move on. Salah satu contoh ada salah satu warga masyarakat mengajukan proses PTSL dengan bayar memakai domba. Alhamdulillah, atas dasar kebijakan kami selaku kepemimpinan desa yang baru kami ambil dombanya dan kami urus kan proses PTSL sampai sertifikat nya jadi diterima oleh warga” tegasnya.

Kuwu Toto pun mengungkapkan, “Ketika dari awal adanya program dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus diinformasikan, kita informasi kepada seluruh warga masyarakat bersama jajaran pemerintahan desa informasi tersebut dipublikasikan secara transparan. Apapun yg diamanatkan perlu disampaikan karena sudah tugas dan kewajiban pertanggungjawaban kita selaku aparatur pemerintahan desa. Adapun ikut tidaknya kembali ke warga masyarakat” ungkapnya.

“Saya tegaskan dugaan isu adanya pungli program PTSL Desa Tegalurung yang ramai dikatakan media online baru-baru ini ternyata tidak benar adanya. Menyikapi pemberitaan miring tersebut saya selaku kepala desa Tegalurung biasa saja dan saya sikapi dengan santai saja kok,..” tegas Kuwu Toto.

“Saya masuk jadi kepala desa tidak mau buat masalah, kalau mau buat masalah dari awal saja. Saya sekarang membangun Desa Tegalurung dalam 8 bulan saja menghabiskan anggaran 1.6 M artinya ada kerja nyata yang kami lakukan untuk pembangunan desa ditambah janji saya akan akses Pertamina serta pemugaran TPU pun beres” tambahnya.

“Kembali lagi saya selaku kepala desa Tegalurung ingin merubah paradigma lama yang mindsetnya jadul harus mengikuti perkembangan sesuai tuntutan zaman, harus Millenial! Jangan harap ada perubahan ketika tidak ada terobosan dan ketegasan” pungkasnya.

“Contoh perubahan kami dari birokrasi, dulu bahwa kartu BPNT dan PKH dipegang sama perangkat desa, setelah kami dilantik Alhamdulillah sesuai janji kami tolong kembalikan hak dari warga masyarakat kartu BPNT dan PKH jangan sampai aparat desa, RT/RW, wakil, juru tulis pegang, sekarang semua sudah terealisasikan” pungkas pula.

“Saya perintahkan kepada seluruh aparat desa, tolong kewajiban kita ketika dikasih amanah sampaikan. Kita bangkitkan rasa percaya diri kita sebagai aparat desa dari warga masyarakat desa Tegalurung agar kembali percaya akibat trauma dari kepemimpinan yang lama” katanya.

“Dari 644 PTSL Alhamdulillah 102 sudah terealisasi setelah selesai baru jalan lagi sesuai perintah pemerintah pusat mengenai PTSL harus dilaksanakan dengan batas waktu pengajuan sampai Bulan Desember 2022” tambahnya pula.

“Prinsip progres kami ketika kerja itu harus ada hasil. Mengenai PTSL ini kami ajukan ke BPN setelah beres baru open lagi. Dikhawatirkan ketraumaan warga bertambah. Menghindari ketraumaan dan paradigma sebagian masyarakat yang mengatakan bisa apa sih lurah Toto, untuk itu saya lebih baik dikatakan orang bodoh tapi punya kekuasaan ketimbang dikatakan orang pinter ga punya kekuatan” tutupnya.

Dalam kesempatan yang sama salah seorang warga masyarakat penerima PTSL Dusun 1 RT 01/01 Desa Tegallurung Kecamatan Cilamaya kulon bernama Ujang dihadapan awak media suratberita.id saat dikonfirmasi mengatakan, “Bahwa pemberitaan yang ramai mengatakan adanya isu pungutan liar PTSL dikenakan biaya sampai berjuta- juta bahkan ada yang mengatakan membayar sekitar 3 juta rupiah sampai 10 juta rupiah itu dipastikan tidak benar adanya!” tegas Ujang.

“Saya dan 2 keluarga saya sudah menerima sertifikat hasil PTSL berkat pak kuwu Toto dan kami pun membayar sesuai anjuran pemerintah tidak sampai membayar berjuta-juta bahkan puluhan juta sesuai apa yang disangkakan ramai pemberitaan baru-baru ini” tutupnya. (tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here